Anda semua mempunyai teman bukan? Jika anda
merasa memiliki banyak teman, tentunya anda juga pernah merasa
kehilangan seorang teman. Jika dipikir-pikir, teman itu layaknya
pembeli, dan kita sebagai penjualnya. Pembeli akan datang ketika ia
merasa memiliki perlu kepada penjual. Perlu untuk membeli sesuatu yang
anda jual misalnya.
Coba kita kembalikan ingatan kita pada saat dimana kita kehilangan
seorang teman yang kita sayangi. Kerap kita mengucapkan kalimat seperti
ini, "Dia cuma mau datang (berteman) ketika ada butuhnya saja, jika
tidak ada butuhnya ya pergi." Kalimat tersebut terdengar sedikit sadis
dan terlalu menyalahkan sang teman yang sedang pergi membelakangi kita.
Jika kita melihat dari sisi si sakit hati, maka yang akan kita
lihat adalah suatu bentuk pemahaman jika selayaknya teman haruslah ada,
baik saat ia membutuhkan sesuatu maupun tidak.
Nah, bagi pembaca yang kebetulan pernah mengalami hal ini, mari kita ulas suatu alasan kepergian teman yang terkesan kejam itu melalui logika yang sehat.
Berhubungan dengan kata Butuh, kita tahu dan sangat faham jika setiap orang, setiap makhlukNya mempunyai suatu kebutuhan terhadap dunia diluar dirinya. Kata 'butuh' biasanya kita jodohkan dengan kata 'ingin'. Misalnya, "Saya ingin membeli gula-gula," akan berbeda maknanya dengan kata "Saya butuh membeli gula-gula." Artinya, kebutuhan adalah sesuatu yang memang penting untuk dipenuhi, sedangkan keinginan sifatnya masih sekunder dan bisa di pending. Tapi
siapa nyana jika ternyata memenuhi keinginan juga merupakan suatu
bentuk memenuhi kebutuhan akan rasa ingin itu sendiri. Sebenarnya ada
yang luput dari bahasan ini, yakni kebutuhan bukan hanya berkisar pada
kebutuhan materialistik saja, tapi juga psikologis manusia.
Setiap manusia membutuhkan seorang teman. Jika anda pernah belajar ilmu sosial, manusia merupakan makhluk sosial yang
tak bisa lepas dari manusia, bahkan makhluk yang lainnya. Inti dari
pembahasan di atas adalah bahwa kebutuhan memang benar-benar penting
untuk dipenuhi.
Sekarang hubungannya dengan pertemanan. Anda pikir, untuk apa anda
berteman dengan orang yang anda anggap cocok untuk anda jadikan sebagai
teman? Anda pikir, untuk apa mereka mau dan bersedia berteman dengan
anda? Sekarang anda pikir lagi, mengapa salah satu dari mereka tiba-tiba
menjauh dari anda? Mengapa tiba-tiba mereka menjadi musuh anda? Atau
bahkan mengapa mereka bisa tiba-tiba tidak menjadi siapa-siapa dalam
hidup anda? Jawabannya hanya ada satu, Mereka berteman dengan anda ketika mereka butuh, dan meninggalkan anda ketika tidak membutuhkan anda lagi.
Masih ingat dengan bahasan tentang kebutuhan psikologis? Dalam
pertemanan, tidak dapat disangkal jika kita membutuhkan manusia atau
objek lain untuk kita jadikan sebagai teman. Kita butuh teman untuk
berbagi, mendengarkan ucapan kita, mendukung kita, dan lain sebagainya.
Dan pertemanan dengan manusia akan berjalan hanya jika kedua belah pihak
merasa masih membutuhkan kita. Pada saat mereka sudah tidak membutuhkan
kita, baik sebagai teman bicara atau semacamnya, jelas mereka akan
meninggalkan kita. Semua terasa bersifat alamiah bukan?
Sebenarnya dalam berteman, setidaknya dalam hal ini, kita hanya butuh
untuk mempertahankan apa yang teman kita butuhkan pada diri kita tetap
melekat pada kita. Kita sebagai orang yang enak diajak bicara misalnya,
maka untuk menjaga agar teman kita tidak berlari adalah menjaga sifat enak diajak bicara tersebut
tetap berada dan menjadi identitas kita. Maka, selama kita memiliki
sifat tersebut, teman akan tetap merasa butuh terhadap kita, dan tidak
akan berlari menjauhi kita.



0 komentar: